Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juli 2011

The Jungle Expedition

Puluhan bongkol rafflesia di temukan, 2 diantara na diperkirakan bakal mekar berbarengan akhir Juli/awal Agustus ini, KPPL bersama Peneliti Rafflesia melihat langsung perkembangan cikal bakal Rafflesia yang bakal mekar sempurna dalam waktu dekat ini dan meneliti utk memprediksikan waktu kpn tepat na mekar sempurna dalam "Jungle Expedition" (Selasa, 19/7/2011) : Menelusuri dan menjelajahi hutan hujan tropis Bengkulu dengan keanekaragaman flora dan fauna yg ada di dalamnya, anak sungai yg mengalir jernih dan menikmati udara segar, bebas dari polusi.

Ekspedisi kali ini kita tidak hanya memasuki hutan yang terdapat habitat Rafflesia tetapi juga memasuki hutan konservasi kibut/bunga bangkai/amorphophalus titanum yang dikelola oleh Holidin bersaudara. Lokasi ini berada di Hutan Lindung Bukit Daun Desa Tebat Monok Kab. Kepahiang. Ketika memasuki lokasi ini pohon Tampuy sedang berbuah lebat, buah tampuy mirip seperti buah Cupak/Rambey yang rasa na asam-asam manis, bedanya dengan buah cupak/rambey, buah Tampuy memiliki kulit buah yang cukup tebal dan agak keras, isi dalamnya berwarna kuning sedangkan buah Cupak/Rambey kulit na lembut dan isi dalamnya berwarna bening/putih. Kami semua akhir na mencicipi buah Tampuy langsung dari pohonnya yang di ambil dengan cara menjuluk oleh Pak Holidin.

Ada 5 pohon kibut jenis titan di konservasi ini yang tumbuh subur dengan ketinggian dan batang pohon yang cukup besar. semuanya dipagari agar tidak di ganggu oleh hewan liar hutan. Sudah tidak sabar lagi ingin melihat pohon kibut ini nantinya berbunga, pasti cukup besar dan tinggi sekali, belum bisa diperkirakan kapan bunga kibut ini mekar sebelum pohonnya mati secara alami dan dari umbinya muncul kembali tunas bunga.

Ekspedisi semakin seru, ketika hujan deras mengguyur kami, pondokan pak holidin jadi tempat berteduh hingga hujan berhenti. Sekitar pukul 15.00 kami pulang dan berpamitan dengan Pak Holidin bersaudara, sebelumnya KPPL memberikan bantuan dana sukarela utk pengelolaan puspa langka di hutan kepahiang.

Perjalanan pulang semakin menyenangkan ketika kami berhenti utk makan duren di pinggir jalan, manggis, dan petai pun jadi buruan :). Nantikan Video Ekslusif Liputan kami langsung dari Hutan Bengkulu.

Mari kita dukung Holidin Bersaudara, Pelestari Rafflesia yang selalu semangat menjaga dan mengelola habitat Rafflesia di hutan Bengkulu. Mari kita lindungi hutan bengkulu dari perambahan agar flora dan fauna yang ada didalam na tetap lestari. Nantikan Ekspedisi Rafflesia selanjutnya dalam waktu dekat ini (Akhir Juli/Awal Agustus 2011) dimana akan mekar Rafflesia 2 sekaligus, extraordinary fresh :)

Salam KPPL, Salam Lestari ...

Rabu, 01 Juni 2011

Ekpedisi Raflesia VII KPPL Bengkulu

MEKARNYA bunga rafflesia memang selalu menjadi perhatian banyak orang, karena memang sangat jarang ditemui. Kali ini mekarnya bunga yang menjadi ikon Provinsi Bengkulu itu kembali mekar di Desa Tebat Monok dengan diameter kurang lebih 70 cm. Mekar sejak Rabu, 25 Mei 2011, Lokasi "pintu masuknya" berada sekitar 500 meter setelah gerbang perbatasan Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Kepahiang, ditempuh sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor dari Kota Bengkulu.


Rafflesia Arnoldii mekar sempurna hari ke-5


Dari pinggir jalan,Lokasi menuju tempat tumbuhnya bunga pun lumayan jauh sekitar 300 meter dari tepi jalan. Ada spanduk penunjuk dan bendera utk memudahkan menemukan lokasi. Medan yang akan dilalui membuat serasa benar-benar berpetualang ke hutan belantara.

Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu dalam Ekspedisi Rafflesia VII, Minggu 29 Mei 2011


Dari pintu rimba, kita akan melewati jalur menurun yang cukup licin sekitar 200 meter, lalu selanjutnya sekitar 100 meter menyusuri anak sungai.

Ramenta, inilah yang menetukan jenis spesies Bunga Rafflesia


Piringan tengah Rafflesia "Diskus" dan Duri-duri "Prosesus"


Knop/Bongkol Rafflesia, cikal bakal bunga Rafflesia


Ekspedisi Rafflesia VII


Minggu, 29 Mei 2011 Pukul 08.30 WIB, Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu melanjutkan Ekpedisi Rafflesia VII, rekan-rekan KPPL yang ikut cukup banyak dibanding ekspedisi sebelumnya. Danau Dendam Tak Sudah jadi lokasi untuk berkumpul sebelum berangkat, ada yang pake motor dan ada juga pake mobil. Pukul 10.00 kita mulai konvoi menuju hutan Bengkulu.


Pukul 11 lewat kita sampai di lokasi, bertemu dengan Pak Holidin Bersaudara yang selalu semangat menjaga dan mengelola habitat Rafflesia. Kurang Lebih setengah jam kita beristirahat sejenak duduk di bangku panjang bambu buatan pak Holidin bersaudara, memulihkan kondisi tubuh yang cukup letih menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, sambil berbincang-bincang dengan pak Holidin dan rekan-rekan KPPL.


Pukul 12.30 kita memulai penjelajahan, menyusuri 300 m hutan dan akhirnya melewati anak sungai yang mengalir jernih. Rafflesia Arnoldii kali ini mekar sempurna dengan diameter 75cm. Tampak beberapa serangga hinggap di kelopak dan prosesus (duri pada bagian dalam bunga). Di lokasi ini ada 11 bongkol/cikal bakal Rafflesia, 2 diantaranya diperkirakan bulan Juli 2011 nanti bakal mekar, kemungkinan bisa mekar 2 Rafflesia sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

kita juga menemukan bunga cantik berwarna pink seperti bunga unji sejenis jahe2an yang ternyata informasi dari dang Tun Jang bunga ini adalah
Hornstedtia rubra. bisa lihat poto lengkapnya di

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1799653957255.2095580.1416979848, juga ulat kaki seribu dengan ukuran yg lumayan besar. disini juga tumbuh tanaman kibut jenis Gigas tetapi masih kecil, juga tanaman paku2an raksasa.


Hornstedtia rubra


Tanaman Kibut, Jenis Gigas

Ulat Kaki Seribu

Pukul 14.00 kita kembali naik keatas, benar-benar melelahkan tapi puas banget. Diatas kita kembali istirahat sambil sharing-sharing kembali bersama rekan-rekan komunitas dan Pak Holidin, Tak disangka pak Holidin memberi kami oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Bengkulu "Sekarung Alpukad" wow :D makasih banyak Pak Holidin dan keluarga :)

Kita akhirnya berphoto bersama dan pukul 15.00 kita berpamitan untuk pulang :)

Nantikan Ekspedisi Rafflesia VIII di akhir bulan Juli 2011 bersama KPPL Bengkulu, rasakan serunya berpetualang bersama menjelajahi hutan hujan tropis bengkulu yg eksotis. (SOFIAN)



Selasa, 31 Mei 2011

Air Terjun "Curug Embun" Kepahiang



Setelah menjelajah hutan Bengkulu dalam ekspedisi Rafflesia VII bersama KPPL Bengkulu, Minggu 29 Mei 2011, saya dan beberapa teman melanjutkan perjalanan ke kota Kepahiang. Di pasar Kepahiang kita membelil nasi bungkus utk bekal perjalan menuju Objek wisata Air terjun Curug Embun. dari Pasar Kepahiang menuju lokasi air terjun waktu tempuh dgn kendaraan bermotor kurang lebih sekitar 15 menit.
Sampai di sana ada papan nama petunjuk utk menuju lokasi, motor menumpang parkir di rumah penduduk setempat, kebetulan sang pemilik rumah sedang mengumpulkan kopi yg telah di jemur, dengan ramah mempersilahkan kami memarkirkan motor. Di lokasi ini banyak sekali tumbuh bunga2 yg indah dan berwarna warni.
Ketika memasuki lokasi menuju air terjun, disepanjang sisi jalan kita menemukan lagi berbagai macam bunga2 yg indah dan juga tanaman kopi. Berkebun Kopi nampaknya menjadi mata pencaharian utama penduduk disini.

Untuk memasuki kawasan air terjun ini kita dipungut retribusi 2 rb rupiah/org, dan parkir 2 rb/kendaraan.

Air terjun Curug Embun Kabawetan ini memiliki daya tarik tersendiri karena merupakan air terjun dengan ketinggian 100 meter dan panorama pegunungan dengan udara yang sejuk. di sepanjang pinggiran air terjun tumbuh banyak tanaman bunga yg cantik.

Beberapa anak-anak penduduk asli asyik mandi dikedalaman 4 m, membuat kami jadi ingin mandi jg, karena waktu sdh sore akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bengkulu melewati perkebunan teh kabawetan, udara sejuk selalu menemani kami selama perjalan dengan panoraman pemandangan alam yg luar biasa indah.
Memasuki kawasan Ds. Tebat Monok, kami singgah sebentar untuk membeli oleh2 buah2an yang banyak dijual penduduk setempat di pinggir jalan, ada pisang, pepaya, ubi jalar, alpokad, dll. Ekpedisi kali ini benar2 luar biasa :)

Bagi wisatawan dari luar bengkulu, Obyek wisata yg terdapat di Desa Tapak Gedung Kepahing Jl. Perum Kepahiang Beringin tiga ini , berjarak sekitar 60 Km dari Bandara Fatmawati Kota Bengkulu dan dapat tempuh dengan kendaraan umum. Rute yang anda harus ambil setelah mendarat di Bandara Fatmawati yaitu menuju kabupaten kepahiang yang berjarak 60 km dari pusat Kota Bengkulu, Sesampai di kota Kabupaten Kepahiang, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Tapak gedung yang berjarak 10 km dari kota Kepahiang. (SOFIAN)

Minggu, 17 April 2011

Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Propinsi Bengkulu


Komunitas Peduli Puspa Langka pada awalnya merupakan sebuah group komunitas di Facebook yg baru terbentuk kurang lebih 4 bulan, pada awal bulan Desember 2010.

Dibentuknya komunitas ini didasari oleh kepedulian terhadap puspa langka yang semakin hari semakin terancam habitatnya akibat perambahan hutan seperti pembukaan lahan-lahan perkebunan dan lain-lain di hutan-hutan Bengkulu.

Komunitas berharap bunga Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus (bunga kibut/bangkai) dpt tumbuh aman dan terjaga, sehingga masyarakat atau dunia luar tidak hanya mengenal bunga eksotis ini dari foto atau gambar saja tetapi berkeinginan agar masyarakat luas tetap dapat datang ke habitat aslinya di hutan-hutan Provinsi Bengkulu dan menikmati keelokannya.

Walau masih berumur kurang lebih 4 bulan, Komunitas Peduli Puspa Langka yang di telah memberikan kontribusi positif bagi promosi wisata Rafflesia melalui blog, web, FB dan juga Media lokal maupun nasional , puluhan wisatawan baik domestik maupun mancanegara secara bergantian berdatangan melihat bunga Rafflesia mekar sempurna di hutan kepahiang tepatnya di desa tebat monok dari bulan Januari hingga akhir maret 2011.

Jumlah anggota komunitas yang bergabung di Facebook kurang lebih 350 orang dan telah 2 kali melakukan kopi darat (silaturahmi antar komunitas) membahas visi dan misi kedepannya. Sampai saat ini komunitas telah 6 kali melakukan ekspedisi Rafflesia langsung ke habitatnya dari bulan Desember 2010 hingga Maret 2011 sbb:

- Ekspedisi I : Amorphophallus Titanum setinggi 2,5 m di Jln. Kepahiang-Curup, Mengunjungi benteng coasako Kab. Kepahiang dan melihat tanaman inang Rafflesia dan anak kibut. (Desember 2010)

- Ekpedisi II : Knop/Bongol Rafflesia di ds. Tebat Monok Kab. Kepahiang, Mengunjungi Ds. Rindu hati Kab. Benteng, desa yang memiliki nilai historis ttg sejarah Bengkulu. (Januari 2011)

- Ekspedisi III : Rafflesia Mekar dengan kelopak patah akibat tangan jahil pengunjung. (Januari 2011)

- Ekspedisi IV : Back to Nature, kembali mengunjungi Rafflesia yg telah seminggu mekar dan menemukan tanaman jahe hutan langka, etlingera, buah hutan dan dll. (Februari 2011)

- Ekspedisi V : Rafflesia Mekar Sempurna, habitat asli Rafflesia yang dikelola oleh Kelompok Peduli Puspa Langka Bp. Holidin CS memiliki puluhan bongol Rafflesia yang secara bergantian bermekaran setiap bulannya. Di habitat ini juga ditemukan beberap jenis tanaman dan hewan hutan yang blm diketahui identitasnya. (Februari 2011)

- Ekspesisi VI : The Biggest Of Rafflesia, di lokasi yang sama. Rafflesia mekar kali ini adalah yang terbesar dibanding Rafflesia sebelumnya. (Maret 2011)

Komunitas Peduli Puspa Langka terbuka untuk umum dari semua kalangan untuk bergabung, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman serta melakukan ekspedisi/petualangan yg berkesan. Mari bersama kita kampanyekan “Save Puspa Langka, Save Rafflesia” agar icon Bengkulu sebagai “The Land of Rafflesia” tidak hanya sekedar slogan saja tetapi memang benar adanya.

Pada Malam Grand Final Pemilihan Bujang Gadis Rafflesia Provinsi Bengkulu 2011 tanggal 9 Maret 2011 pukul 19.30 WIB di Hotel Raffles City, Komunitas Peduli Puspa Langka bersama Finalis Bujang Gadis Rafflesia 2011 memberikan “Award : Peduli Puspa Langka” Kepada Bp. Holidin CS atas kepeduliannya terhadap pelestarian, penjagaan dan pengelolaan habitat Rafflesia dan Amorphophallus di Hutan Kepahiang Ds. Tebat Monok Kab. Kepahiang.

Komunitas bersama finalis juga melakukan penggalangan dana sukarela “Kotak Peduli Puspa Langka” kepada masyarakat yang ada di Bengkulu untuk pelestarian dan pengelolaan Rafflesia dan Amorphophallus di Hutan-hutan Bengkulu.

Mari bersama kita promosikan keberadaan Komunitas Peduli Puspa Langka agar dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat Bengkulu tetapi juga masyarakat luas.

Salam Komunitas ...
“Jangan ngaku anak bengkulu kalau belum lihat Rafflesia langsung :)"

Kamis, 24 Februari 2011

Repost : Khawatir Dirusak, Rafflesia Dijaga 12 Jam


Hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal atau 15 Februari 2011 lalu (15/2), juga banyak dimanfaatkan warga Bengkulu untuk berwisata. Salah satu tempat yang ramai dikunjungi adalah lokasi mekarnya bunga rafflesia di Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang. Tak pelak, keindahan bunga raksasa yang mekar sempurna pada Senin (14/2) pagi itu menarik perhatian pengunjung. Baik yang tak sengaja melintas atau sengaja berkunjung setelah mendapat informasi dari SMS ke SMS.

KOMI KENDY, Kepahiang

MEKARNYA bunga rafflesia memang selalu menjadi perhatian banyak orang, karena memang sangat jarang ditemui. Kali ini mekarnya bunga yang menjadi ikon Provinsi Bengkulu itu kembali mekar di Desa Tebat Monok, hanya saja berbeda tempat dengan yang sebelumnya juga mekar beberapa minggu lalu. Kali ini lokasi "pintu masuknya" berada sekitar 500 meter setelah gerbang perbatasan Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Kepahiang, ditempuh sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor dari Kota Bengkulu.

Dari pinggir jalan, lokasi menuju tempat tumbuhnya bunga pun lumayan jauh sekitar 300 meter dari tepi jalan. Ada papan penunjuk yang dibuat Tim Peduli Puspa Langka yang dipasang Senin, bersamaan dengan mekarnya rafflesia. Meski tidak terlalu sulit, tapi bagi sebagian pengunjung medannya membuat serasa benar-benar berpetualang ke hutan belantara.

Dari pintu rimba, pengunjung harus melewati jalur menurun yang cukup licin sekitar 200 meter, lalu selanjutnya sekitar 100 meter menyusuri anak sungai. Takut terpeleset dan terguling ke bawah, anak-anak yang diajak orang tua mereka, terpaksa digendong.

Di lokasi mekarnya rafflesia, sudah ada Kholidin (43), warga Desa Tebat Monok. Ia juga merupakan Ketua Tim Peduli Puspa Langka yang menjaga agar selama mekar rafflesia tidak diusik tangan jahil. Ia pula yang menjadi guide dadakan bagi pengunjung yang ingin tahu lebih banyak bunga tersebut. "Saya memang sengaja stand by di sini 12 jam dari jam setengah enam pagi sampai habis maghrib. Saya khawatir rafflesia ini dirusak orang," tutur Kholidin yang menjaga rafflesia bersama anak-anaknya.

Bunga rafflesia yang mekar itu kini diameter kelopaknya sudah mencapai 75 sentimeter, atau bertambah 15 sentimeter sejak pertama kali ditemukan mekar. Tinggi kelopak dari tanah mencapai 32 sentimeter. Diperkirakan bunga itu hanya mekar selama 12 hari sebelum akhirnya membusuk. Menurut Kholidi, bunga itu tergolong sedang dibandingkan bunga rafflesia terbesar yang pernah ditemukannya dengan diamater 1 meter.

Berbeda dengan bunga bangkai (bunga kibut) yang mengeluarkan bau busuk dan tercium dari radius beberapa meter, bau bunga rafflesia hanya tercium dari jarak dekat. Baunya yang sedikit amis, menarik serangga dan lalat untuk mendekat dan memakan sari bunga dari diskus (bagian tengah bunga yang mirip duri).

Di sekitarnya tidak ada pagar pembatas seperti yang biasa dipasang warga untuk melindungi bunga. Sehingga kali ini pengunjung bisa berfoto dari jarak sangat dekat. Meski begitu, sesekali Kholidi menegur pengunjung yang menyentuh bunga atau berfoto terlalu dekat. "Saya bukan pelit atau cerewet. Tapi karena tidak dipagar saya harus lebih rewel. Jangan sampai bunganya rusak dan tidak bisa dinikmati bersama," ujar Kholidin.

Sejak kemarin lusa, sudah sekitar 400 pengunjung yang datang ke lokasi mekarnya rafflesia. Pengunjung yang datang ada yang rombongan satu bus berasal dari Jambi. "Malah akan ada yang datang langsung dari Jepang. Namanya Mr. Hayashi. Sudah dua-tiga kali dia kemari melihat rafflesia mekar dan selalu minta dikabari tiap ada yang mekar. Biasanya dari Jepang dia ke Salatiga, lalu naik motor ke Bengkulu menempuh perjalanan empat hari," tutur Kholidin.

Pada area seluas 1 hektare di kawasan mekarnya bunga rafflesia itu, totalnya ada 11 titik tumbuhnya bunga. Kalau medan ditemukannya bunga rafflesia cukup jauh dari pinggir jalan dan sulit ditempuh, biasanya Kholidi tidak mau mengambil risiko. Ia tidak menginformasikan temuan bunga rafflesia kepada masyarakat umum. Tapi kalau jalurnya aman, ia pun membuka jalan untuk melintas. "Takutnya kalau jalur susah tetap dipaksakan memperbolehkan pengunjung melihat, malah celaka," kata Kholidin.

Secara rutin hampir setiap hari Kholidin menyisiri wilayah hutan, mengecek bunga rafflesia yang tumbuh. Baginya tidak sulit mengetahui di mana saja lokasi tumbuhnya bunga rafflesia. Ada batang khusus yang disebutnya batang sekedei.

"Kalau bahasa Bengkulu Selatan itu batang segedi. Kebetulan saya asli Bengkulu Selatan. Biasanya kami melihat batangnya dan menyusuri akarnya. Batang sekedei ini biasanya lentur dan mudah putuh," kata Kholidi, sembari menunjuk akar yang menghubungkan bunga rafflesia ke batang sekedei. Jaraknya hanya sekitar 2 meter antara bunga dan batang.

Mengupas Mitos

Selama menjaga bunga rafflesia, Kholidin mengatakan dirinya mendapati banyak perbedaan tentang rafflesia versi buku dengan rafflesia yang dijaganya. Perbedaan itu dianggapnya karena selama ini beberapa peneliti hanya fokus pada bunga, tidak menelusuri hingga inangnya.

Beberapa perbedaan yang didapati Kholidi bahwa ada yang mengatakan bahwa bunga adalah jamur atau spora yang biasa tumbuh di batang lapuk. Anggapan ini ditepisnya setelah membuktikan bahwa bunga rafflesia punya akar dan batang. "Saya baru tahu waktu SMP. Karena penasaran,waktu ada bunga yang tumbuh di pekarangan kebun orang tua, langsung saya korek. Baru ketahuan kalau ternyata rafflesia punya akar dan batang," tuturnya.

Lalu ada juga yang mengatakan bahwa diskus bunga rafflesia bisa menyedot tangan manusia dan memakannya. Begitu juga dengan hewan-hewan yang mendekat. Ternyata anggapan itu salah, karena justru binatang kecil seperti lalat dan serangga memakan sari makanan dari duri-duri diskus. "Tapi mungkin mitos ini ada baiknya karena membuat orang yang belum tahu tidak mau menyentuh bunga rafflesia ini. Bisa jadi sengaja disebarkan agar tidak ada yang merusak," tambahnya.

Lalu dalam sebuah buku yang pernah dibacanya juga menyebutkan bahwa rafflesia hanya tumbuh di musim hujan dan tidak bisa dibudidayakan. Menurutnya hal itu pun tidak benar. Tahun 1997 di Bengkulu pernah terjadi kemarau panjang, hingga sembilan bulan. Nyatanya pada periode itu bunga rafflesia tetap tumbuh.

"Satu lagi saya membuktikan bahwa isi di buku tidak sama dengan kondisi yang sebenarnya. Sekarang saya lagi mencoba melakukan penangkaran batang sekedei. Memang belum pernah berbunga. Tapi saya yakin pada jangka waktu tertentu di batang sekedei itu nantinya bisa tumbuh rafflesia," tambah Kholidi,

Hal lainnya, terkait sejarah yang menyebutkan bahwa Gubernur Thomas Stamford Raffles adalah penemu pertama bunga raksasa di Bengkulu. Kholidin sendiri yakin hal itu tidak benar. Ia berkeyakinan justru warga pribumi lah yang pertama kali menemukan. "Logikanya Thomas Stamford Raffles adalah pejabat tinggi, ibaratnya gubernur sekarang. "Apakah benar dia sendiri bersama rekannya Arnold itu yang menembus hutan dan menemukan bunga ini? Saya rasa tidak," ujar pria yang menamatkan pendidikannya di SMA PGRI Kepahiang.

Buat Penangkaran

Sejak pindah ke Tebat Monok bersama kedua orang tuanya Samsudin dan Sihawati, tahun 1979, Kholidin bersama keluarganya memang konsen melindungi puspa langka yang tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka. Beberapa tahun sebelumnya, menjaga bunga rafflesia dilakukan bekerjasama dengan sebuah kelompok pencinta alam Cinta Sampai Puncak (CSP). Tapi setelah itu anggota Tim Peduli Puspa langka ini makin berkurang.

"Tadinya anggota kami 21 orang, menyusut menjadi 13 orang. Lalu sekarang hanya 7 orang saja dan kami saudara kandung. Mengapa anggotanya berkurang, ya sepertinya faktor ekonomi yang menjadi persoalan. Aktivitas perlindungan ini kami lakuka swadaya. Belum ada bantuan subsidi dari pemerintah. Beruntungnya banyak diantara pengunjung yang memiliki kepedulian membantu sukarela. Meskipun jumlahnya terbatas," tutur Kholidin, yang merupakan anak ke-2.

Sangat disayangkan Kholidin, hingga sekarang belum ada yang menuntun mereka ke arah pelestarian dan penangkaran, terutama dari pemerintah. Dia yang pernah mencoba membuat penangkaran bunga kibut dan rafflesia, terkendala dana. Akibatnya penangkaran yang dirintis sekitar tahun 2009 kini mulai tak terurus. "Kami sudah mencoba untuk berbuat, tapi kami juga punya keterbatasan. Untuk sementara, penangkaran bunga kibut itu tidak terurus," tambahnya.(**)

http://www.facebook.com/notes/kendy-komi/khawatir-dirusak-rafflesia-dijaga-12-jam/501146647244?ref=notif&notif_t=note_reply

Jumat, 11 Februari 2011

Back to Nature

Back to Nature : Ekspedisi jilid 4 berlanjut, kali ini mendampingi Mr. Mario yang ingin menyaksikan langsung Bunga Raflesia mekar walau sudah layu di ds. Tebat Monok Hutan Kepahiang.

Yang menarik pada ekspedisi kali ini kami menemukan Etlingera yang baru mekar, banyak Zingiber Acuminatum bermekaran, tanaman bramles sejenis arbey, buah hutan dan lain-lain

Menikmati dingin dan segarnya air gunung yang mengalir terus menerus tiada henti :)

Mengunjungi Benteng Coa Sako di Kab. Benteng, melihat banyak pohon inang Raflesia yang sudah tumbuh berumur mungkin puluhan tahun :)

Berikut dokumentasi perjalanan kami :

Photo Zingiber Acuminatum menjadi photo yang akan ikut di lihat banyak orang di dunia, karena Photo Zingiber Acumunatum ini tergolong langka untuk saat ini, bahkan beberapa komunitas jahe dunia belum mendapatkan photonya dari alam sumatra. Beruntung saya bisa langsung ketemu di hutan Bengkulu :)






Jumat, 04 Februari 2011

repost : Ditemukan, Danau "Darah" dan Kelabang Raksasa


Warga Kota Pagaralam, Sematera Selatan, Sabtu (4/12), menemukan danau yang permukaan air berwarna merah seperti darah dengan luas enam hektare diperbatasan Provinsi Bengkulu atau sekitar bukit Raje Mandare.

Keberadaan danau ini juga baru dapat dijangkau membutuhkan waktu sekitar dua hari dengan berjalan kaki melewati kawasan hutan dan bukit Rimbacandi, Kelurahan Candi Jaya, Kecamatan Dempo Selatan.

"Kami bersama rombongan sebanya 21 orang termasuk dua para normal melakukan ekspedisi di kawasan Rimbacandi dengan menelusuri tebing, hutan dan perbukitan selama dua hari baru sampai di lokasi danau merah tersebut," kata Asmidi, warga setempat di Pagaralam.

Dikatakannya, letak danau itu di sekitar perbukitan Raje Mandare perbatasan antara Kota Pagaralam dan Kaur, Provinsi Bengkulu yang terkenal dengan banyak tersimpan berbagai peninggalan bersejarah termasuk candi.

Menurut dia, daerah itu memang banyak hal yang aneh bisa ditemukan, bukan hanya ada danau dengan terlihat permukaan air berwarna merah, tapi juga ada lokasi menimbulkan aroma pandan bila malam hari.

"Namun anehnya meskipun dilihat dari permukaan berwarna merah, tapi ketika air diambil menggunakan tangan diangkat ke permukaan justru warnanya seperti biasa bening dan jernih," kata dia.

Ia mengatakan, kemudian di daerah bukit Raje Mandare itu kondisi hutanya juga ada keanehan, untuk membedakan apakah daerah tersebut masih tanah Besemah atau bukan bisa dilihat dari pohon kayu.

"Jadi kalau pohon kayu miring ke arah Pagaralam artinya masih masuk wilayah tanah Besemah, sedangkan kalau masuk daerah Bengkulu ia akan berlawanan arah miringnya," ungkap dia.

Kemudian di daerah itu, semua jenis burung dan hewan hutan yang ada cukup jinak, namun tidak boleh mengeluarkan suara atau berbicara supaya aneka hewan tersebut tidak lari, kata Asmidi.

"Ada hal lain yang kami temukan seperti kelabang raksasa ukuran lebar 30 centimeter dengan panjang 50 cm, burung raksasa dan kerbau yang telinganya ada sarang lebah atau tawon, namun demikian kami tidak tahu apa saja yang tersimpan di daerah bukit Raje Mandare itu," ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Senibudaya setempat, Syafrudin, mengatakan daerah Rimbacandi memang masih banyak menyimpan misteri hingga kini masih belum dapat terungkap termasuk keberadaan bukit Raje Mandare yang banyak memiliki peninggalan sejarah termasuk aset pariwisata alam.

Pihak pemerintah setempat untuk melakukan penelitian di daerah itu, terkendala masalah keterbatasan dana serta diperlukan tenaga ahli di bidangnya. (luc/Ant)

Editor : Wiedarto
Sumber : Antara
http://jambi.tribunnews.com/2010/12/04/ditemukan-danau-darah-dan-kelabang-raksasa

Senin, 31 Januari 2011

Raflesia Arnoldi Mekar

Ekpedisi Jilid 3 : 29 Januari 2011

Sabtu pagi 29 Januari 2011, sekitar pukul 10.00, ketika buka FB, saya di tag beberapa photo terbaru Raflesia Mekar tempat saya dan teman-teman melakukan ekspedisi seminggu yang lalu. Pada pukul 14.00 WIB saya, Nodhy dan 2 orang keponakan saya, Risky dan Nanak memulai ekspedisi jilid 3 ke Hutan Kepahiang.

Cuaca siang itu di kota Bengkulu sangat cerah, tetapi ketika memasuki Kab. Benteng langit berubah mendung, hujan nampaknya bakal turun. Hujan deras pun mengguyur kami ketika kami sudah berada diatas gunung. Sampai dilokasi tepatnya di desa Tebat Monok, kami berteduh sejenak di warung Bapak Samsul Bahri, beliaulah yang menemukan Bunga Raflesia yang sedang mekar sekarang.

Ketika hujan sedikit reda, kami berempat mulai mendaki lokasi tempat Raflesia tumbuh, tanah becek dan licin membuat saya sempat terpeleset, lumayan capek juga dan harus ekstra hati2, karena kita harus mendaki sekitar 40 m lah dari bawah ke atas menuju Raflesia.

Saya sedih ketika melihat salah satu kelopak Raflesia patah, kata Pak Samsul Bahri, patahnya kelopak itu karena ada pengunjung yang jahil. Raflesia yang saya temui ini masih segar dan cantik. Semuanya telah saya abadikan dalam jepretan kamera HP N73 saya.

Hujan semakin deras saja, kami pun basah kuyup. Keponakan saya mulai tidak betah karena beberapa kali kaki mereka di hinggapi Pacet begitu pula Nodhy, tapi alhamdulillah saya aman dari pacet karena saya menggunakan kaos kaki dan sepatu. Kami pun akhirnya turun kembali ke bawah dan langsung pulang kembali ke Bengkulu ditengah guyuran hujan

Ekpedisi basah, begitulah kami menyebutnya, tapi walau basah kuyup kami puas telah melihat langsung dan mengabadikan momen yg luar biasa ini.(Sofian)

Kamis, 27 Januari 2011

Beautiful Bali (My Photography)

Amazing Journey, March 2010

Sunset di Tanah Lot

Persembahyangan umat Hindu Bali di Pura Tirta Empul

Parasailing di Pantai Tanjung Benoa Bali

Pantai Dreamland Bali

Candi Kuning Bali


Photo : Sofian, Maret 2010

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mohon di Klik

Entri Populer