Tampilkan postingan dengan label tanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanaman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Yuk! kenali 4 Jenis Rafflesia yang ada di Bengkulu


  1. Rafflesia arnoldii, paling populer, paling banyak yang ada di hutan Prop. Bengkulu, Paling banyak di kenal oleh masyarakat karena ditemukan pertama kali oleh Sir Stamford Raffles dan Dr Joseph Arnold pada tahun 1818 di desa Pulo Lebbar (Kec. Pino Raya) 30 km dari Kota Manna Kab. Bengkulu Selatan, menjadi icon lambang Prop. Bengkulu. Rafflesia arnoldi merupakan jenis yang terbesar di dunia (The Biggest of Flower in The World) dengan diameter 70-110 sentimeter. Rafflesia Arnoldii di juluki jg sebagai Patma Raksasa dan mendapat predikat sebagai Puspa Langka Nasional (Kepres No. 4/1993)
  2. Rafflesia gadutensis Meijer.  Rafflesia gadutensis dapat ditemukan di sisi barat Pegunungan Bukit Barisan Kab. Mukomuko dan Bengkulu Utara.  Memiliki diameter berkisar antara 40-46 cm, gadutensis berasal dari kata Ulu Gadut, yaitu satu nama bukit Gadut di propinsi Sumatra Barat, dimana asal specimen species ini dideskripsikan oleh Meijer 1984. Ditemukannya Habitat Rafflesia gadutensis di Dusun Lama Desa Talang Baru Kecamatan Malin Deman Kabupaten Mukomuko baru-baru ini merupakan hal yang luar biasa dan menggembirakan, habitat ini harus segera mendapat perlindungan agar keberadaannya tetap lestari. 
  3. Rafflesia hasseltii Suringar.  Merupakan jenis Rafflesia yang paling cantik. Jenis ini dideskripsikan oleh Suringar pada tahun 1879 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan dari Muara Labuh, Sumatera Barat.  Karena pola bercak dan warna di helai perigon, oleh penduduk lokal, jenis ini sering dinamakan cendawan merah-putih (Zuhud dkk, 1998) atau cendawan harimau. Rafflesia Haseltii memiliki diameter bunga 35-70 cm. Hanya ada satu populasi yang produktif dari jenis ini yang masih dapat dijumpai yaitu diperbatasan antara Ketenong II, Kab. Lebong Prop. Bengkulu.                                                                                                                                                                               
  4. Rafflesia bengkuluensis ( Agus Susatyaya, Arianto & Mat-Salleh 2005), species ini membawah nama Bengkulu di kata keduanya yaitu bengkuluensis, untuk menghormati Bengkulu sebagai lokasi pertama kali jenis ini di deskripsikan. Bengkuluensis merupakan jenis baru dari Indonesia, dgn diameter bunga 50-55 cm. Mempunyai sebaran geografis terbatas di lembah Talang Tais atau di wilayah daerah aliran sungai Tais, yang terletak di sebelah barat laut Taman Nasional Bukit Barisan Selatan                                                                                                                                       
Sumber : di ringkas dari buku Rafflesia, Pesona Bunga Terbesar di Dunia (Agus Susatya, 2011)
Photo : Komunitas Peduli Puspa Langka & Internet

Selasa, 22 Mei 2012

Anggrek Pensil (Papillionanthe hookeriana)


Anggrek pensil  mempunyai warna yang indah dan menawan serta mempunyai kesegaran yang cukup tahan lama (22 hari) dan merupakan salah satu jenis anggrek di Indonesia yang dapat merebut hati masyarakat Inggris, sehingga pada tahun 1882 dinobatkan sebagai Ratu Anggrek dan mendapat hadiah First Class Certificate.


Anggrek ini pertama kali ditemukan oleh Lobb di Labuan, Kalimantan. Nama  Papillionanthe hookeriana diberikan sebagai penghormatan terhadap Sir William Jackson Hooker seorang mahaguru ahli botani yang pernah menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Kew, Inggris.

MORFOLOGI

Akar anggrek pensil mempunyai akar hawa, berbentuk bulat memanjang keluar dari buku batang sebanyak satu atau lebih setiap bukunya, berwarna putih suram dan hijau muda pada bagian ujungnya.


Batang berbentuk bulat beruas-ruas 4-5 cm dan tertutup oleh seludang atau upih yang sisinya saling berlekatan. Cabang keluar dari batang anggrek pensil dapat mencapai 2,5 m tingginya.

Daun anggrek pensil terdiri atas upih yang berbentuk tabung  dan helaian daun yang bulat memanjang , meruncing kearah ujung seperti pensil, panjang daun 7-13 cm mempunyai warna sedikit hijau muda atau sedikit agak tua.


Bunga besar bergaris tengah 5-6 cm, daun kelopak 3 helai yang diatas berwarna kebiru-biruan dengan urat-urat halus yang berwarna lebih gelap, kadang berbentuk bercak ungu sedangkan daun kelopak samping berwarna putih.

Buah pada umumnya berbentuk bulat memanjang meruncing kearah tangkai buah, pinggiran bersegi, panjang 6-5 cm dengan garis tengah  2 cm. Di dalamnya terdapat ribuan bijih halus, untuk panjang tangkai buah 2,5 – 3 cm.

TAKSONOMI

Devisi                    : Spermathophyta
Subdivisio            : Angiospermae
Kelas                     : Monocotyledoneae
Ordo                      : Orchidales
Famili                    : Orchidaceae
Genus                   : Papillionanthe
Species                 : Papillionanthe hookeriana


HABITAT

Habitat anggrek pensil berada di rawa-rawa. Di habitat yang asli anggrek pensil hidup menumpang pada bunga bakung (Crinum Asiaticum) tetapi anggrek ini tidak menggantungkan hidupnya pada bunga bakung.

Di Propinsi Bengkulu anggrek pensil hidup di rawa-rawa sekitar Danau Dendam Tak Sudah di dalam kawasan Cagar Alam Danau Dusun Besar yang terletak kurang lebih 3-4 Km dari pusat kota.

STATUS PERLINDUNGAN

Anggrek Papillionanthe hookeriana menurut PP Nomor 77 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa termasuk jenis tumbuhan yang di lindungi.

Sumber : BKSDA Prop. Bengkulu

Senin, 21 Mei 2012

Si Cantik Si Bunga Bangkai, Flora Khas Bengkulu


Ada hal yang perlu diluruskan, ketika ditanya tentang Bunga Bangkai maka hampir semuanya menjawab bahwa Bunga Bangkai adalah Bunga Raflesia. Jelas suatu pemahaman yang keliru. Demikian juga berita di  TV yang  kebetulan sedang menampilkan “Bunga Bangkai” yang tumbuh di pekarangan rumah warga dan menjadi tontonan warga. Sayang seribu sayang, penyiar TV menyebutkan bahwa itu adalah Bunga Raflesia dengan lengkap menyebutkan nama latinnya. Padahal gambar yang ditayangkan adalah gambar Bunga Bangkai. Jelas hal tersebut merupakan informasi yang menyesatkan. Kejadian seperti itu di TV bukanlah baru sekali atau dua kali ditemui, melainkan sudah beberapa kali. Bukan hanya TV, media cetak maupun beberapa artikel di internet juga salah persepsi akan hal itu.  Artinya, banyak yang masih rancu memahami Bunga Raflesia dan Bunga Bangkai.

Bunga Bangkai yang di kenal juga dengan Bunga Kibut (Amorphophallus titanum) adalah Bunga Majemuk Terbesar di Dunia, endemik Sumatera. Merupakan Flora Identitas Provinsi Bengkulu berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri No. 48 tahun 1989. Di sebut Bunga Bangkai karena mengeluarkan bau busuk untuk mengundang kumbang dan lalat  penyerbuk bagi bunganya. Bunga Bangkai berbeda dengan Bunga Rafflesia karena Bunga Bangkai memiliki daun dan batang, termasuk dalam suku talas-talasan ( Araceae ).

Bunga Bangkai terdiri atas dua bagian utama : seludang dan tongkol dan memiliki siklus hidup yang unik " dua tahap", yaitu masa berdaun ( vegetatif ) dan masa berbunga ( generatif ). Kedua tahapan itu selalu diselingi oleh masa istirahat. Daur hidup bunga ini berlangsung antara 20-40 tahun, sejak mulai biji hingga pertama kali berbunga.

Ada beberapa dari jenis bunga ini yang bermanfaat. Daun muda dan buah dimanfaatkan sebagai sayuran,  juga bermanfaat untuk  pengobatan tradisional yaitu sebagai obat disentri, sakit telinga, kolera, masalah pernafasan, untuk menurunkan tekanan darah dan kolesterol, untuk obat sakit rematik dan juga masalah pencernaan, bahkan, umbi dari bunga bangkai jenis Amorphophalus paeonifolius dapat di jadikan bahan makanan karena mengandung karbohidrat yang tinggi.

Di Bengkulu ada 4 Jenis Bunga Bangkai yang terpantau oleh Komunitas Peduli Puspa Langka, tumbuh dan berkembang hampir di semua hutan yang ada di Prop. Bengkulu terutama di Cagar Alam Taba Penanjung Kab. Bengkulu Tengah dan Hutan Lindung Bukit Daun Tebat Monok Kab. Kepahiang. 4 Jenis tersebut yaitu :
a. Amorphophallus titanum

b. Amorphophallus gigas, merupakan bunga majemuk tertinggi di dunia yang dapat menghasilkan bunga setinggi 5 m

c. Amorphophallus paeonifolius

d. Amorphophallus variabilis

*dari berbagai sumber
*photo koleksi Komunitas Peduli Puspa Langka & Internet

Sabtu, 23 Juli 2011

The Jungle Expedition

Puluhan bongkol rafflesia di temukan, 2 diantara na diperkirakan bakal mekar berbarengan akhir Juli/awal Agustus ini, KPPL bersama Peneliti Rafflesia melihat langsung perkembangan cikal bakal Rafflesia yang bakal mekar sempurna dalam waktu dekat ini dan meneliti utk memprediksikan waktu kpn tepat na mekar sempurna dalam "Jungle Expedition" (Selasa, 19/7/2011) : Menelusuri dan menjelajahi hutan hujan tropis Bengkulu dengan keanekaragaman flora dan fauna yg ada di dalamnya, anak sungai yg mengalir jernih dan menikmati udara segar, bebas dari polusi.

Ekspedisi kali ini kita tidak hanya memasuki hutan yang terdapat habitat Rafflesia tetapi juga memasuki hutan konservasi kibut/bunga bangkai/amorphophalus titanum yang dikelola oleh Holidin bersaudara. Lokasi ini berada di Hutan Lindung Bukit Daun Desa Tebat Monok Kab. Kepahiang. Ketika memasuki lokasi ini pohon Tampuy sedang berbuah lebat, buah tampuy mirip seperti buah Cupak/Rambey yang rasa na asam-asam manis, bedanya dengan buah cupak/rambey, buah Tampuy memiliki kulit buah yang cukup tebal dan agak keras, isi dalamnya berwarna kuning sedangkan buah Cupak/Rambey kulit na lembut dan isi dalamnya berwarna bening/putih. Kami semua akhir na mencicipi buah Tampuy langsung dari pohonnya yang di ambil dengan cara menjuluk oleh Pak Holidin.

Ada 5 pohon kibut jenis titan di konservasi ini yang tumbuh subur dengan ketinggian dan batang pohon yang cukup besar. semuanya dipagari agar tidak di ganggu oleh hewan liar hutan. Sudah tidak sabar lagi ingin melihat pohon kibut ini nantinya berbunga, pasti cukup besar dan tinggi sekali, belum bisa diperkirakan kapan bunga kibut ini mekar sebelum pohonnya mati secara alami dan dari umbinya muncul kembali tunas bunga.

Ekspedisi semakin seru, ketika hujan deras mengguyur kami, pondokan pak holidin jadi tempat berteduh hingga hujan berhenti. Sekitar pukul 15.00 kami pulang dan berpamitan dengan Pak Holidin bersaudara, sebelumnya KPPL memberikan bantuan dana sukarela utk pengelolaan puspa langka di hutan kepahiang.

Perjalanan pulang semakin menyenangkan ketika kami berhenti utk makan duren di pinggir jalan, manggis, dan petai pun jadi buruan :). Nantikan Video Ekslusif Liputan kami langsung dari Hutan Bengkulu.

Mari kita dukung Holidin Bersaudara, Pelestari Rafflesia yang selalu semangat menjaga dan mengelola habitat Rafflesia di hutan Bengkulu. Mari kita lindungi hutan bengkulu dari perambahan agar flora dan fauna yang ada didalam na tetap lestari. Nantikan Ekspedisi Rafflesia selanjutnya dalam waktu dekat ini (Akhir Juli/Awal Agustus 2011) dimana akan mekar Rafflesia 2 sekaligus, extraordinary fresh :)

Salam KPPL, Salam Lestari ...

Minggu, 17 April 2011

Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Propinsi Bengkulu


Komunitas Peduli Puspa Langka pada awalnya merupakan sebuah group komunitas di Facebook yg baru terbentuk kurang lebih 4 bulan, pada awal bulan Desember 2010.

Dibentuknya komunitas ini didasari oleh kepedulian terhadap puspa langka yang semakin hari semakin terancam habitatnya akibat perambahan hutan seperti pembukaan lahan-lahan perkebunan dan lain-lain di hutan-hutan Bengkulu.

Komunitas berharap bunga Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus (bunga kibut/bangkai) dpt tumbuh aman dan terjaga, sehingga masyarakat atau dunia luar tidak hanya mengenal bunga eksotis ini dari foto atau gambar saja tetapi berkeinginan agar masyarakat luas tetap dapat datang ke habitat aslinya di hutan-hutan Provinsi Bengkulu dan menikmati keelokannya.

Walau masih berumur kurang lebih 4 bulan, Komunitas Peduli Puspa Langka yang di telah memberikan kontribusi positif bagi promosi wisata Rafflesia melalui blog, web, FB dan juga Media lokal maupun nasional , puluhan wisatawan baik domestik maupun mancanegara secara bergantian berdatangan melihat bunga Rafflesia mekar sempurna di hutan kepahiang tepatnya di desa tebat monok dari bulan Januari hingga akhir maret 2011.

Jumlah anggota komunitas yang bergabung di Facebook kurang lebih 350 orang dan telah 2 kali melakukan kopi darat (silaturahmi antar komunitas) membahas visi dan misi kedepannya. Sampai saat ini komunitas telah 6 kali melakukan ekspedisi Rafflesia langsung ke habitatnya dari bulan Desember 2010 hingga Maret 2011 sbb:

- Ekspedisi I : Amorphophallus Titanum setinggi 2,5 m di Jln. Kepahiang-Curup, Mengunjungi benteng coasako Kab. Kepahiang dan melihat tanaman inang Rafflesia dan anak kibut. (Desember 2010)

- Ekpedisi II : Knop/Bongol Rafflesia di ds. Tebat Monok Kab. Kepahiang, Mengunjungi Ds. Rindu hati Kab. Benteng, desa yang memiliki nilai historis ttg sejarah Bengkulu. (Januari 2011)

- Ekspedisi III : Rafflesia Mekar dengan kelopak patah akibat tangan jahil pengunjung. (Januari 2011)

- Ekspedisi IV : Back to Nature, kembali mengunjungi Rafflesia yg telah seminggu mekar dan menemukan tanaman jahe hutan langka, etlingera, buah hutan dan dll. (Februari 2011)

- Ekspedisi V : Rafflesia Mekar Sempurna, habitat asli Rafflesia yang dikelola oleh Kelompok Peduli Puspa Langka Bp. Holidin CS memiliki puluhan bongol Rafflesia yang secara bergantian bermekaran setiap bulannya. Di habitat ini juga ditemukan beberap jenis tanaman dan hewan hutan yang blm diketahui identitasnya. (Februari 2011)

- Ekspesisi VI : The Biggest Of Rafflesia, di lokasi yang sama. Rafflesia mekar kali ini adalah yang terbesar dibanding Rafflesia sebelumnya. (Maret 2011)

Komunitas Peduli Puspa Langka terbuka untuk umum dari semua kalangan untuk bergabung, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman serta melakukan ekspedisi/petualangan yg berkesan. Mari bersama kita kampanyekan “Save Puspa Langka, Save Rafflesia” agar icon Bengkulu sebagai “The Land of Rafflesia” tidak hanya sekedar slogan saja tetapi memang benar adanya.

Pada Malam Grand Final Pemilihan Bujang Gadis Rafflesia Provinsi Bengkulu 2011 tanggal 9 Maret 2011 pukul 19.30 WIB di Hotel Raffles City, Komunitas Peduli Puspa Langka bersama Finalis Bujang Gadis Rafflesia 2011 memberikan “Award : Peduli Puspa Langka” Kepada Bp. Holidin CS atas kepeduliannya terhadap pelestarian, penjagaan dan pengelolaan habitat Rafflesia dan Amorphophallus di Hutan Kepahiang Ds. Tebat Monok Kab. Kepahiang.

Komunitas bersama finalis juga melakukan penggalangan dana sukarela “Kotak Peduli Puspa Langka” kepada masyarakat yang ada di Bengkulu untuk pelestarian dan pengelolaan Rafflesia dan Amorphophallus di Hutan-hutan Bengkulu.

Mari bersama kita promosikan keberadaan Komunitas Peduli Puspa Langka agar dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat Bengkulu tetapi juga masyarakat luas.

Salam Komunitas ...
“Jangan ngaku anak bengkulu kalau belum lihat Rafflesia langsung :)"

Kamis, 24 Februari 2011

Repost : Khawatir Dirusak, Rafflesia Dijaga 12 Jam


Hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal atau 15 Februari 2011 lalu (15/2), juga banyak dimanfaatkan warga Bengkulu untuk berwisata. Salah satu tempat yang ramai dikunjungi adalah lokasi mekarnya bunga rafflesia di Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang. Tak pelak, keindahan bunga raksasa yang mekar sempurna pada Senin (14/2) pagi itu menarik perhatian pengunjung. Baik yang tak sengaja melintas atau sengaja berkunjung setelah mendapat informasi dari SMS ke SMS.

KOMI KENDY, Kepahiang

MEKARNYA bunga rafflesia memang selalu menjadi perhatian banyak orang, karena memang sangat jarang ditemui. Kali ini mekarnya bunga yang menjadi ikon Provinsi Bengkulu itu kembali mekar di Desa Tebat Monok, hanya saja berbeda tempat dengan yang sebelumnya juga mekar beberapa minggu lalu. Kali ini lokasi "pintu masuknya" berada sekitar 500 meter setelah gerbang perbatasan Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Kepahiang, ditempuh sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor dari Kota Bengkulu.

Dari pinggir jalan, lokasi menuju tempat tumbuhnya bunga pun lumayan jauh sekitar 300 meter dari tepi jalan. Ada papan penunjuk yang dibuat Tim Peduli Puspa Langka yang dipasang Senin, bersamaan dengan mekarnya rafflesia. Meski tidak terlalu sulit, tapi bagi sebagian pengunjung medannya membuat serasa benar-benar berpetualang ke hutan belantara.

Dari pintu rimba, pengunjung harus melewati jalur menurun yang cukup licin sekitar 200 meter, lalu selanjutnya sekitar 100 meter menyusuri anak sungai. Takut terpeleset dan terguling ke bawah, anak-anak yang diajak orang tua mereka, terpaksa digendong.

Di lokasi mekarnya rafflesia, sudah ada Kholidin (43), warga Desa Tebat Monok. Ia juga merupakan Ketua Tim Peduli Puspa Langka yang menjaga agar selama mekar rafflesia tidak diusik tangan jahil. Ia pula yang menjadi guide dadakan bagi pengunjung yang ingin tahu lebih banyak bunga tersebut. "Saya memang sengaja stand by di sini 12 jam dari jam setengah enam pagi sampai habis maghrib. Saya khawatir rafflesia ini dirusak orang," tutur Kholidin yang menjaga rafflesia bersama anak-anaknya.

Bunga rafflesia yang mekar itu kini diameter kelopaknya sudah mencapai 75 sentimeter, atau bertambah 15 sentimeter sejak pertama kali ditemukan mekar. Tinggi kelopak dari tanah mencapai 32 sentimeter. Diperkirakan bunga itu hanya mekar selama 12 hari sebelum akhirnya membusuk. Menurut Kholidi, bunga itu tergolong sedang dibandingkan bunga rafflesia terbesar yang pernah ditemukannya dengan diamater 1 meter.

Berbeda dengan bunga bangkai (bunga kibut) yang mengeluarkan bau busuk dan tercium dari radius beberapa meter, bau bunga rafflesia hanya tercium dari jarak dekat. Baunya yang sedikit amis, menarik serangga dan lalat untuk mendekat dan memakan sari bunga dari diskus (bagian tengah bunga yang mirip duri).

Di sekitarnya tidak ada pagar pembatas seperti yang biasa dipasang warga untuk melindungi bunga. Sehingga kali ini pengunjung bisa berfoto dari jarak sangat dekat. Meski begitu, sesekali Kholidi menegur pengunjung yang menyentuh bunga atau berfoto terlalu dekat. "Saya bukan pelit atau cerewet. Tapi karena tidak dipagar saya harus lebih rewel. Jangan sampai bunganya rusak dan tidak bisa dinikmati bersama," ujar Kholidin.

Sejak kemarin lusa, sudah sekitar 400 pengunjung yang datang ke lokasi mekarnya rafflesia. Pengunjung yang datang ada yang rombongan satu bus berasal dari Jambi. "Malah akan ada yang datang langsung dari Jepang. Namanya Mr. Hayashi. Sudah dua-tiga kali dia kemari melihat rafflesia mekar dan selalu minta dikabari tiap ada yang mekar. Biasanya dari Jepang dia ke Salatiga, lalu naik motor ke Bengkulu menempuh perjalanan empat hari," tutur Kholidin.

Pada area seluas 1 hektare di kawasan mekarnya bunga rafflesia itu, totalnya ada 11 titik tumbuhnya bunga. Kalau medan ditemukannya bunga rafflesia cukup jauh dari pinggir jalan dan sulit ditempuh, biasanya Kholidi tidak mau mengambil risiko. Ia tidak menginformasikan temuan bunga rafflesia kepada masyarakat umum. Tapi kalau jalurnya aman, ia pun membuka jalan untuk melintas. "Takutnya kalau jalur susah tetap dipaksakan memperbolehkan pengunjung melihat, malah celaka," kata Kholidin.

Secara rutin hampir setiap hari Kholidin menyisiri wilayah hutan, mengecek bunga rafflesia yang tumbuh. Baginya tidak sulit mengetahui di mana saja lokasi tumbuhnya bunga rafflesia. Ada batang khusus yang disebutnya batang sekedei.

"Kalau bahasa Bengkulu Selatan itu batang segedi. Kebetulan saya asli Bengkulu Selatan. Biasanya kami melihat batangnya dan menyusuri akarnya. Batang sekedei ini biasanya lentur dan mudah putuh," kata Kholidi, sembari menunjuk akar yang menghubungkan bunga rafflesia ke batang sekedei. Jaraknya hanya sekitar 2 meter antara bunga dan batang.

Mengupas Mitos

Selama menjaga bunga rafflesia, Kholidin mengatakan dirinya mendapati banyak perbedaan tentang rafflesia versi buku dengan rafflesia yang dijaganya. Perbedaan itu dianggapnya karena selama ini beberapa peneliti hanya fokus pada bunga, tidak menelusuri hingga inangnya.

Beberapa perbedaan yang didapati Kholidi bahwa ada yang mengatakan bahwa bunga adalah jamur atau spora yang biasa tumbuh di batang lapuk. Anggapan ini ditepisnya setelah membuktikan bahwa bunga rafflesia punya akar dan batang. "Saya baru tahu waktu SMP. Karena penasaran,waktu ada bunga yang tumbuh di pekarangan kebun orang tua, langsung saya korek. Baru ketahuan kalau ternyata rafflesia punya akar dan batang," tuturnya.

Lalu ada juga yang mengatakan bahwa diskus bunga rafflesia bisa menyedot tangan manusia dan memakannya. Begitu juga dengan hewan-hewan yang mendekat. Ternyata anggapan itu salah, karena justru binatang kecil seperti lalat dan serangga memakan sari makanan dari duri-duri diskus. "Tapi mungkin mitos ini ada baiknya karena membuat orang yang belum tahu tidak mau menyentuh bunga rafflesia ini. Bisa jadi sengaja disebarkan agar tidak ada yang merusak," tambahnya.

Lalu dalam sebuah buku yang pernah dibacanya juga menyebutkan bahwa rafflesia hanya tumbuh di musim hujan dan tidak bisa dibudidayakan. Menurutnya hal itu pun tidak benar. Tahun 1997 di Bengkulu pernah terjadi kemarau panjang, hingga sembilan bulan. Nyatanya pada periode itu bunga rafflesia tetap tumbuh.

"Satu lagi saya membuktikan bahwa isi di buku tidak sama dengan kondisi yang sebenarnya. Sekarang saya lagi mencoba melakukan penangkaran batang sekedei. Memang belum pernah berbunga. Tapi saya yakin pada jangka waktu tertentu di batang sekedei itu nantinya bisa tumbuh rafflesia," tambah Kholidi,

Hal lainnya, terkait sejarah yang menyebutkan bahwa Gubernur Thomas Stamford Raffles adalah penemu pertama bunga raksasa di Bengkulu. Kholidin sendiri yakin hal itu tidak benar. Ia berkeyakinan justru warga pribumi lah yang pertama kali menemukan. "Logikanya Thomas Stamford Raffles adalah pejabat tinggi, ibaratnya gubernur sekarang. "Apakah benar dia sendiri bersama rekannya Arnold itu yang menembus hutan dan menemukan bunga ini? Saya rasa tidak," ujar pria yang menamatkan pendidikannya di SMA PGRI Kepahiang.

Buat Penangkaran

Sejak pindah ke Tebat Monok bersama kedua orang tuanya Samsudin dan Sihawati, tahun 1979, Kholidin bersama keluarganya memang konsen melindungi puspa langka yang tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka. Beberapa tahun sebelumnya, menjaga bunga rafflesia dilakukan bekerjasama dengan sebuah kelompok pencinta alam Cinta Sampai Puncak (CSP). Tapi setelah itu anggota Tim Peduli Puspa langka ini makin berkurang.

"Tadinya anggota kami 21 orang, menyusut menjadi 13 orang. Lalu sekarang hanya 7 orang saja dan kami saudara kandung. Mengapa anggotanya berkurang, ya sepertinya faktor ekonomi yang menjadi persoalan. Aktivitas perlindungan ini kami lakuka swadaya. Belum ada bantuan subsidi dari pemerintah. Beruntungnya banyak diantara pengunjung yang memiliki kepedulian membantu sukarela. Meskipun jumlahnya terbatas," tutur Kholidin, yang merupakan anak ke-2.

Sangat disayangkan Kholidin, hingga sekarang belum ada yang menuntun mereka ke arah pelestarian dan penangkaran, terutama dari pemerintah. Dia yang pernah mencoba membuat penangkaran bunga kibut dan rafflesia, terkendala dana. Akibatnya penangkaran yang dirintis sekitar tahun 2009 kini mulai tak terurus. "Kami sudah mencoba untuk berbuat, tapi kami juga punya keterbatasan. Untuk sementara, penangkaran bunga kibut itu tidak terurus," tambahnya.(**)

http://www.facebook.com/notes/kendy-komi/khawatir-dirusak-rafflesia-dijaga-12-jam/501146647244?ref=notif&notif_t=note_reply

Selasa, 15 Februari 2011

TIPS MENENTUKAN JENIS SPECIES RAFFLESIA

Buat teman-teman semua yang mau melihat mekarnya Rafflesia di hutan Bengkulu, berikut tips untuk menentukan jenis species Rafflesia yang mekar, ini prinsip yang utamanya saja, sebagai berikut :

1. Mohon potret dan hitung jumlah Prosesus (bagian bunga yang berbentuk duri di tengah-tengah). Seperti gambar di atas, atau lihat photo ini :

2. Bawa cermin kecil (bisa cermin buat teman-teman wanita yang sering berdandan, cermin peruncing pinsil, prinsipnya cermin kecil saja). Masukkan cermin tersebut ke tengah tengah bunga Raflesia, hati hati agar cermin tak menyentuh bunga, dan lihat bentuk ramentanya. dan gambar di kertas bentuk pola ramenta tersebut. secara kasat mata ramenta itu berbentuk bulu bulu, di photo Pak Mario dia menyebut ramenta Rafflesia Arnoldii yang sudah proses membusuk seperti bulu-bulu buah rambutan, tapi bentuknya jadi tidak khas lagi karena Pak Mario melihat bunganya dalam keadaan tidak segar lagi.

3. Bandingkan gambar ramenta tersebut ke Monoghraph Ramenta yang dibuat oleh Meijer. Diagram monograph ramenta bisa di lihat dibawah ini :

4. Setelah melihat ramentanya teman-teman bisa berkesimpulan bahwa yang di lihat itu Rafflesia Arnoldii atau bukan. semoga bermanfaat :)

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=151182461606592&set=at.148580111866827.29468.146690182055820.1416979848&ref=nf

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mohon di Klik

Entri Populer