- Rafflesia arnoldii, paling populer, paling banyak yang ada di hutan Prop. Bengkulu, Paling banyak di kenal oleh masyarakat karena ditemukan pertama kali oleh Sir Stamford Raffles dan Dr Joseph Arnold pada tahun 1818 di desa Pulo Lebbar (Kec. Pino Raya) 30 km dari Kota Manna Kab. Bengkulu Selatan, menjadi icon lambang Prop. Bengkulu. Rafflesia arnoldi merupakan jenis yang terbesar di dunia (The Biggest of Flower in The World) dengan diameter 70-110 sentimeter. Rafflesia Arnoldii di juluki jg sebagai Patma Raksasa dan mendapat predikat sebagai Puspa Langka Nasional (Kepres No. 4/1993)

- Rafflesia gadutensis Meijer. Rafflesia gadutensis dapat ditemukan di sisi barat Pegunungan Bukit Barisan Kab. Mukomuko dan Bengkulu Utara. Memiliki diameter berkisar antara 40-46 cm, gadutensis berasal dari kata Ulu Gadut, yaitu satu nama bukit Gadut di propinsi Sumatra Barat, dimana asal specimen species ini dideskripsikan oleh Meijer 1984. Ditemukannya Habitat Rafflesia gadutensis di Dusun Lama Desa Talang Baru Kecamatan Malin Deman Kabupaten Mukomuko baru-baru ini merupakan hal yang luar biasa dan menggembirakan, habitat ini harus segera mendapat perlindungan agar keberadaannya tetap lestari.

- Rafflesia hasseltii Suringar. Merupakan jenis Rafflesia yang paling cantik. Jenis ini dideskripsikan oleh Suringar pada tahun 1879 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan dari Muara Labuh, Sumatera Barat. Karena pola bercak dan warna di helai perigon, oleh penduduk lokal, jenis ini sering dinamakan cendawan merah-putih (Zuhud dkk, 1998) atau cendawan harimau. Rafflesia Haseltii memiliki diameter bunga 35-70 cm. Hanya ada satu populasi yang produktif dari jenis ini yang masih dapat dijumpai yaitu diperbatasan antara Ketenong II, Kab. Lebong Prop. Bengkulu.

- Rafflesia bengkuluensis ( Agus Susatyaya, Arianto & Mat-Salleh 2005), species ini membawah nama Bengkulu di kata keduanya yaitu bengkuluensis, untuk menghormati Bengkulu sebagai lokasi pertama kali jenis ini di deskripsikan. Bengkuluensis merupakan jenis baru dari Indonesia, dgn diameter bunga 50-55 cm. Mempunyai sebaran geografis terbatas di lembah Talang Tais atau di wilayah daerah aliran sungai Tais, yang terletak di sebelah barat laut Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Mencintai Bengkulu sepenuh hati dengan segala keanekaragaman seni dan budayanya, ikut andil dalam memajukan wisata Bengkulu -- Perjalanan-perjalanan
Rabu, 23 Mei 2012
Yuk! kenali 4 Jenis Rafflesia yang ada di Bengkulu
Selasa, 22 Mei 2012
Anggrek Pensil (Papillionanthe hookeriana)




Senin, 21 Mei 2012
Si Cantik Si Bunga Bangkai, Flora Khas Bengkulu






Rabu, 09 November 2011
PERINGATAN HARI CINTA PUSPA DAN SATWA NASIONAL 2011 DI BENGKULU OLEH KOMUNITAS PEDULI PUSPA LANGKA

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) diperingati setiap tanggal 5 November. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita.
Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional dimulai pertama kali pada tahun 1993 berdasarkan Kepres Nomor 4 tahun 1993 yang ditandatangani langsung oleh Presiden RI kala itu, H. M. Soeharto.
Komunitas Peduli Puspa langka (KPPL) untuk pertama kalinya di Bengkulu mengusung beberapa kegiatan dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tahun 2011 ini, tema yang diangkat adalah The Pride Of Bengkulu : “Lestarikan Puspa dan Satwa demi Masa Depan Bumi Kita” dan “Mari mengenal lebih dekat puspa langka kebanggaan kita demi kelestariannya”.
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kepedulian, perlindungan, dan pelestarian puspa langka di Propinsi Bengkulu, dimana di Propinsi Bengkulu terdapat 4 (empat) puspa langka yang patut dibanggakan yaitu Rafflesia arnoldii (bunga terbesar), Amorphophallus titanium (bunga tertinggi), Grammathopyllum speciosum (anggrek terpanjang) dan Vanda Hookeriana (anggrek pensil terlangka). Keberadaan Rafflesia Arnoldii sebagai bunga terbesar di dunia yang ada di hutan Bengkulu sangat minim perhatian pemerintah maupun masyarakat, habitatnya di hutan yang terancam akibat perambahan liar menyebabkan populasi Rafflesia Arnoldii semakin hari semakin berkurang bahkan diambang kepunahan. Harapan kita icon Propinsi Bengkulu sebagai “The Land of Rafflesia” tidak hanya sekedar slogan saja tetapi memang benar adanya.
Aksi Simpatik “Peduli Puspa Langka Kebanggaan Kito”
Kegiatan ini akan berlangsung di Simpang Lima Kota Bengkulu pada Tanggal 5 November 2011 bertepatan dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, dari pukul 09.00 WIB s.d 11.00 WIB. Aksi simpatik yang dilakukan adalah kampanye lingkungan “Peduli Puspa Langka Kebanggan Kito”, mengajak massa untuk peduli dan bangga terhadap keberadaan puspa langka di Bengkulu dengan menyebarkan stiker dan brosur. Maskot Rafflesia Arnoldii, Duta Wisata Bengkulu bersama seluruh anggota Komunitas Peduli Puspa Langka dan pihak-pihak terkait terjun langsung dalam aksi ini.
Lomba Mewarnai Puspa Langka untuk TK/PAUD se-Kota Bengkulu
Ajang kreatifitas sekaligus sosialisasi pengenalan puspa langka kepada anak-anak usia dini TK/PAUD akan berlangsung di Sport Center Pantai Panjang Bengkulu pada tanggal 12 November 2011.
Pameran Photo
Pameran photo seputar Puspa Langka dan Ragam Bengkulu, akan berlangsung di Sport Center Pantai Panjang Bengkulu pada tanggal 11-13 November 2011.
Pameran Puspa Langka
Puspa langka yang akan dipamerkan antara lain Tanaman Inang Rafflesia arnoldii (Liliana/Testrastigma), Tanaman Kibut (Amorphophallus), dan Anggrek Tebu/Macan (Grammathopyllum speciosum) berlangsung di Sport Center Pantai Panjang Bengkulu pada tanggal 11-13 November 2011.
Pameran Seni Rupa
Para seniman Bengkulu akan menampilkan lukisan, kerajinan kulit lantung, cinderamata khas Bengkulu dan masih banyak lagi pada tanggal 11-13 November 2011 di Sport Center Pantai Panjang Bengkulu.
***
Semoga kegiatan ini dapat berlanjut terus pada tahun-tahun berikutnya, sukses dan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Tetap semangat untuk memajukan propinsi kita tercinta.
Salam KPPL, Salam Lestari ....
Sabtu, 23 Juli 2011
The Jungle Expedition
Puluhan bongkol rafflesia di temukan, 2 diantara na diperkirakan bakal mekar berbarengan akhir Juli/awal Agustus ini, KPPL bersama Peneliti Rafflesia melihat langsung perkembangan cikal bakal Rafflesia yang bakal mekar sempurna dalam waktu dekat ini dan meneliti utk memprediksikan waktu kpn tepat na mekar sempurna dalam "Jungle Expedition" (Selasa, 19/7/2011) : Menelusuri dan menjelajahi hutan hujan tropis Bengkulu dengan keanekaragaman flora dan fauna yg ada di dalamnya, anak sungai yg mengalir jernih dan menikmati udara segar, bebas dari polusi.
Ekspedisi kali ini kita tidak hanya memasuki hutan yang terdapat habitat Rafflesia tetapi juga memasuki hutan konservasi kibut/bunga bangkai/amorphophalus titanum yang dikelola oleh Holidin bersaudara. Lokasi ini berada di Hutan Lindung Bukit Daun Desa Tebat Monok Kab. Kepahiang. Ketika memasuki lokasi ini pohon Tampuy sedang berbuah lebat, buah tampuy mirip seperti buah Cupak/Rambey yang rasa na asam-asam manis, bedanya dengan buah cupak/rambey, buah Tampuy memiliki kulit buah yang cukup tebal dan agak keras, isi dalamnya berwarna kuning sedangkan buah Cupak/Rambey kulit na lembut dan isi dalamnya berwarna bening/putih. Kami semua akhir na mencicipi buah Tampuy langsung dari pohonnya yang di ambil dengan cara menjuluk oleh Pak Holidin.
Ada 5 pohon kibut jenis titan di konservasi ini yang tumbuh subur dengan ketinggian dan batang pohon yang cukup besar. semuanya dipagari agar tidak di ganggu oleh hewan liar hutan. Sudah tidak sabar lagi ingin melihat pohon kibut ini nantinya berbunga, pasti cukup besar dan tinggi sekali, belum bisa diperkirakan kapan bunga kibut ini mekar sebelum pohonnya mati secara alami dan dari umbinya muncul kembali tunas bunga.
Ekspedisi semakin seru, ketika hujan deras mengguyur kami, pondokan pak holidin jadi tempat berteduh hingga hujan berhenti. Sekitar pukul 15.00 kami pulang dan berpamitan dengan Pak Holidin bersaudara, sebelumnya KPPL memberikan bantuan dana sukarela utk pengelolaan puspa langka di hutan kepahiang.
Perjalanan pulang semakin menyenangkan ketika kami berhenti utk makan duren di pinggir jalan, manggis, dan petai pun jadi buruan :). Nantikan Video Ekslusif Liputan kami langsung dari Hutan Bengkulu.
Mari kita dukung Holidin Bersaudara, Pelestari Rafflesia yang selalu semangat menjaga dan mengelola habitat Rafflesia di hutan Bengkulu. Mari kita lindungi hutan bengkulu dari perambahan agar flora dan fauna yang ada didalam na tetap lestari. Nantikan Ekspedisi Rafflesia selanjutnya dalam waktu dekat ini (Akhir Juli/Awal Agustus 2011) dimana akan mekar Rafflesia 2 sekaligus, extraordinary fresh :)
Salam KPPL, Salam Lestari ...
Rabu, 01 Juni 2011
Ekpedisi Raflesia VII KPPL Bengkulu

MEKARNYA bunga rafflesia memang selalu menjadi perhatian banyak orang, karena memang sangat jarang ditemui. Kali ini mekarnya bunga yang menjadi ikon Provinsi Bengkulu itu kembali mekar di Desa Tebat Monok dengan diameter kurang lebih 70 cm. Mekar sejak Rabu, 25 Mei 2011, Lokasi "pintu masuknya" berada sekitar 500 meter setelah gerbang perbatasan Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Kepahiang, ditempuh sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor dari Kota Bengkulu.

Rafflesia Arnoldii mekar sempurna hari ke-5
Dari pinggir jalan,Lokasi menuju tempat tumbuhnya bunga pun lumayan jauh sekitar 300 meter dari tepi jalan. Ada spanduk penunjuk dan bendera utk memudahkan menemukan lokasi. Medan yang akan dilalui membuat serasa benar-benar berpetualang ke hutan belantara.

Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu dalam Ekspedisi Rafflesia VII, Minggu 29 Mei 2011
Dari pintu rimba, kita akan melewati jalur menurun yang cukup licin sekitar 200 meter, lalu selanjutnya sekitar 100 meter menyusuri anak sungai.
Ramenta, inilah yang menetukan jenis spesies Bunga Rafflesia
Piringan tengah Rafflesia "Diskus" dan Duri-duri "Prosesus"
Knop/Bongkol Rafflesia, cikal bakal bunga Rafflesia
Ekspedisi Rafflesia VII
Minggu, 29 Mei 2011 Pukul 08.30 WIB, Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu melanjutkan Ekpedisi Rafflesia VII, rekan-rekan KPPL yang ikut cukup banyak dibanding ekspedisi sebelumnya. Danau Dendam Tak Sudah jadi lokasi untuk berkumpul sebelum berangkat, ada yang pake motor dan ada juga pake mobil. Pukul 10.00 kita mulai konvoi menuju hutan Bengkulu.
Pukul 11 lewat kita sampai di lokasi, bertemu dengan Pak Holidin Bersaudara yang selalu semangat menjaga dan mengelola habitat Rafflesia. Kurang Lebih setengah jam kita beristirahat sejenak duduk di bangku panjang bambu buatan pak Holidin bersaudara, memulihkan kondisi tubuh yang cukup letih menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, sambil berbincang-bincang dengan pak Holidin dan rekan-rekan KPPL.
Pukul 12.30 kita memulai penjelajahan, menyusuri 300 m hutan dan akhirnya melewati anak sungai yang mengalir jernih. Rafflesia Arnoldii kali ini mekar sempurna dengan diameter 75cm. Tampak beberapa serangga hinggap di kelopak dan prosesus (duri pada bagian dalam bunga). Di lokasi ini ada 11 bongkol/cikal bakal Rafflesia, 2 diantaranya diperkirakan bulan Juli 2011 nanti bakal mekar, kemungkinan bisa mekar 2 Rafflesia sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
kita juga menemukan bunga cantik berwarna pink seperti bunga unji sejenis jahe2an yang ternyata informasi dari dang Tun Jang bunga ini adalah Hornstedtia rubra. bisa lihat poto lengkapnya di
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1799653957255.2095580.1416979848, juga ulat kaki seribu dengan ukuran yg lumayan besar. disini juga tumbuh tanaman kibut jenis Gigas tetapi masih kecil, juga tanaman paku2an raksasa.

Hornstedtia rubra
Rabu, 04 Mei 2011
Kamis, 28 April 2011
My Lily : Bloom Today





Bunga Lili, Si Cantik yang Melegenda
Di Indonesia, bunga lili disebut juga bunga bakung, bunga dausa, atau bunga semur. Lili bisa tumbuh di berbagai habitat, seperti pegunungan, di hutan, kadang juga bisa tumbuh di rawa.
Karena keanggunannya, tak heran jika bunga lili menjadi salah satu bunga paling populer di dunia. Bahkan di Inggris, kepopulerannya melebihi bunga mawar.
Bunga dari keluarga liliaceae ini kurang lebih terdiri dari sekitar 100 macam spesies yang tersebar di berbagai belahan dunia. Banyak orang menanam bunga lili di perkarangan rumahnya. Karena selain cantik, bunga lili juga dikenal melambangkan keanggunan dan keindahan.
Kedudukan Sistematis dan Deskripsi Bunga Lili
Bunga lili memiliki kedudukan sistematis dalam klasifikasi ilmiah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Liliidae
Ordo : Liliales
Famili : Liliaceae
Genus : Lilium
Lili terdiri dari kurang lebih 100 spesies. Antara lain L. Auratum, L. candidum, L. canadens , L. Lancifolium, L. Pumilum, dan masih banyak spesies lainnya. Merupakan tanaman monokotil yang berpembuluh dan dapat menghasilkan biji. Tumbuhan ini memiliki berbagai macam warna bunga, dari putih, orange, ungu, merah muda, jingga, hingga warna gelap mendekati hitam.
Perbanyakannya dilakukan dengan pembentukan umbi, yang juga merupakan cadangan makanan. Dengan cadangan makanan tersebut lili bisa bertahan pada musim dingin atau musim kemarau. Umbi pada beberapa spesies seperti L. bulbiferum dan L. lancifolium bisa dimakan, rasanya pun cukup manis. Bahkan umbinya dapat dipakai untuk mengganti umbi kentang.
Bertaman Bunga berselubung Legenda
Lili kerap dimaknai berdasarkan warnanya. Lili putih melambangkan kesucian, lili kuning menggambarkan kebahagiaan, dan lili orange menggambarkan gairah.
Bahkan dalam legenda Kristen, lili dari spesies Lilium candidum dipercaya menghiasi makam perawan maria di mana kemunculannya menandakan telah masuknya maria ke surga. Di Yunani bunga lili menjadi simbol kesucian. Dalam legenda mereka, lili disebut-sebut muncul dari Juno, yakni istri Jupiter yang juga merupakan seorang dewi.
Boleh jadi bebagai legenda semacam itulah yang terus menghidupkan pesona lili hingga saat ini. Tak heran jika banyak pria yang menghadiahkannya bunga ini pada kekasihnya.
Menanam bunga cantik berselubung legenda tentu menimbulkan kepuasan tersendiri. Penanaman lili tidaklah sulit karena lili mudah tumbuh. Meski demikian lili tetap memiliki habitat terbaiknya yakni pada tanah dengan kadar asam yang seimbang.
Tips Merawat Bunga Lili
Beberapa hal penting dalam merawat bunga lili sebagai berikut:
1. Meski bunga lili merupakan tanaman yang mudah tumbuh, sebaiknya letakkan lili pada media tanah dengan kadar asam yang seimbang. Jika diperlukan, bisa ditambahkan kapur dolomite untuk menjaga keseimbangan pH.
2. Buang kelopak biji ketika sudah muncul.
3. Jika ada bagian tanaman yang menguning atau membusuk harus rajin-rajin membuangnya. Karena bagian tanaman yang busuk dapat memicu tumbuhnya pathogen seperti bakteri dan jamur.
4. Di masa pertumbuhan, berikan pupuk dalam kadar yang seimbang.
5. Hindari pemberian pupuk yang, mengandung nitrogen dalam kadar tinggi.
6. Di samping itu perhatikan jarak tanamn, jangan terlalu dekat karena akan membuat perakarannya saling berebut nutrisi sehingga dapat mengganggu pertumbuhan.




Minggu, 17 April 2011
Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Propinsi Bengkulu

Dibentuknya komunitas ini didasari oleh kepedulian terhadap puspa langka yang semakin hari semakin terancam habitatnya akibat perambahan hutan seperti pembukaan lahan-lahan perkebunan dan lain-lain di hutan-hutan Bengkulu.
Komunitas berharap bunga Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus (bunga kibut/bangkai) dpt tumbuh aman dan terjaga, sehingga masyarakat atau dunia luar tidak hanya mengenal bunga eksotis ini dari foto atau gambar saja tetapi berkeinginan agar masyarakat luas tetap dapat datang ke habitat aslinya di hutan-hutan Provinsi Bengkulu dan menikmati keelokannya.
Walau masih berumur kurang lebih 4 bulan, Komunitas Peduli Puspa Langka yang di telah memberikan kontribusi positif bagi promosi wisata Rafflesia melalui blog, web, FB dan juga Media lokal maupun nasional , puluhan wisatawan baik domestik maupun mancanegara secara bergantian berdatangan melihat bunga Rafflesia mekar sempurna di hutan kepahiang tepatnya di desa tebat monok dari bulan Januari hingga akhir maret 2011.
Jumlah anggota komunitas yang bergabung di Facebook kurang lebih 350 orang dan telah 2 kali melakukan kopi darat (silaturahmi antar komunitas) membahas visi dan misi kedepannya. Sampai saat ini komunitas telah 6 kali melakukan ekspedisi Rafflesia langsung ke habitatnya dari bulan Desember 2010 hingga Maret 2011 sbb:
- Ekspedisi I : Amorphophallus Titanum setinggi 2,5 m di Jln. Kepahiang-Curup, Mengunjungi benteng coasako Kab. Kepahiang dan melihat tanaman inang Rafflesia dan anak kibut. (Desember 2010)
- Ekpedisi II : Knop/Bongol Rafflesia di ds. Tebat Monok Kab. Kepahiang, Mengunjungi Ds. Rindu hati Kab. Benteng, desa yang memiliki nilai historis ttg sejarah Bengkulu. (Januari 2011)
- Ekspedisi III : Rafflesia Mekar dengan kelopak patah akibat tangan jahil pengunjung. (Januari 2011)
- Ekspedisi IV : Back to Nature, kembali mengunjungi Rafflesia yg telah seminggu mekar dan menemukan tanaman jahe hutan langka, etlingera, buah hutan dan dll. (Februari 2011)
- Ekspedisi V : Rafflesia Mekar Sempurna, habitat asli Rafflesia yang dikelola oleh Kelompok Peduli Puspa Langka Bp. Holidin CS memiliki puluhan bongol Rafflesia yang secara bergantian bermekaran setiap bulannya. Di habitat ini juga ditemukan beberap jenis tanaman dan hewan hutan yang blm diketahui identitasnya. (Februari 2011)
- Ekspesisi VI : The Biggest Of Rafflesia, di lokasi yang sama. Rafflesia mekar kali ini adalah yang terbesar dibanding Rafflesia sebelumnya. (Maret 2011)
Komunitas Peduli Puspa Langka terbuka untuk umum dari semua kalangan untuk bergabung, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman serta melakukan ekspedisi/petualangan yg berkesan. Mari bersama kita kampanyekan “Save Puspa Langka, Save Rafflesia” agar icon Bengkulu sebagai “The Land of Rafflesia” tidak hanya sekedar slogan saja tetapi memang benar adanya.
Pada Malam Grand Final Pemilihan Bujang Gadis Rafflesia Provinsi Bengkulu 2011 tanggal 9 Maret 2011 pukul 19.30 WIB di Hotel Raffles City, Komunitas Peduli Puspa Langka bersama Finalis Bujang Gadis Rafflesia 2011 memberikan “Award : Peduli Puspa Langka” Kepada Bp. Holidin CS atas kepeduliannya terhadap pelestarian, penjagaan dan pengelolaan habitat Rafflesia dan Amorphophallus di Hutan Kepahiang Ds. Tebat Monok Kab. Kepahiang.
Komunitas bersama finalis juga melakukan penggalangan dana sukarela “Kotak Peduli Puspa Langka” kepada masyarakat yang ada di Bengkulu untuk pelestarian dan pengelolaan Rafflesia dan Amorphophallus di Hutan-hutan Bengkulu.
Mari bersama kita promosikan keberadaan Komunitas Peduli Puspa Langka agar dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat Bengkulu tetapi juga masyarakat luas.
Salam Komunitas ...
“Jangan ngaku anak bengkulu kalau belum lihat Rafflesia langsung :)"
Kamis, 24 Februari 2011
Repost : Khawatir Dirusak, Rafflesia Dijaga 12 Jam
KOMI KENDY, Kepahiang
MEKARNYA bunga rafflesia memang selalu menjadi perhatian banyak orang, karena memang sangat jarang ditemui. Kali ini mekarnya bunga yang menjadi ikon Provinsi Bengkulu itu kembali mekar di Desa Tebat Monok, hanya saja berbeda tempat dengan yang sebelumnya juga mekar beberapa minggu lalu. Kali ini lokasi "pintu masuknya" berada sekitar 500 meter setelah gerbang perbatasan Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Kepahiang, ditempuh sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor dari Kota Bengkulu.
Dari pinggir jalan, lokasi menuju tempat tumbuhnya bunga pun lumayan jauh sekitar 300 meter dari tepi jalan. Ada papan penunjuk yang dibuat Tim Peduli Puspa Langka yang dipasang Senin, bersamaan dengan mekarnya rafflesia. Meski tidak terlalu sulit, tapi bagi sebagian pengunjung medannya membuat serasa benar-benar berpetualang ke hutan belantara.
Dari pintu rimba, pengunjung harus melewati jalur menurun yang cukup licin sekitar 200 meter, lalu selanjutnya sekitar 100 meter menyusuri anak sungai. Takut terpeleset dan terguling ke bawah, anak-anak yang diajak orang tua mereka, terpaksa digendong.
Di lokasi mekarnya rafflesia, sudah ada Kholidin (43), warga Desa Tebat Monok. Ia juga merupakan Ketua Tim Peduli Puspa Langka yang menjaga agar selama mekar rafflesia tidak diusik tangan jahil. Ia pula yang menjadi guide dadakan bagi pengunjung yang ingin tahu lebih banyak bunga tersebut. "Saya memang sengaja stand by di sini 12 jam dari jam setengah enam pagi sampai habis maghrib. Saya khawatir rafflesia ini dirusak orang," tutur Kholidin yang menjaga rafflesia bersama anak-anaknya.
Bunga rafflesia yang mekar itu kini diameter kelopaknya sudah mencapai 75 sentimeter, atau bertambah 15 sentimeter sejak pertama kali ditemukan mekar. Tinggi kelopak dari tanah mencapai 32 sentimeter. Diperkirakan bunga itu hanya mekar selama 12 hari sebelum akhirnya membusuk. Menurut Kholidi, bunga itu tergolong sedang dibandingkan bunga rafflesia terbesar yang pernah ditemukannya dengan diamater 1 meter.
Berbeda dengan bunga bangkai (bunga kibut) yang mengeluarkan bau busuk dan tercium dari radius beberapa meter, bau bunga rafflesia hanya tercium dari jarak dekat. Baunya yang sedikit amis, menarik serangga dan lalat untuk mendekat dan memakan sari bunga dari diskus (bagian tengah bunga yang mirip duri).
Di sekitarnya tidak ada pagar pembatas seperti yang biasa dipasang warga untuk melindungi bunga. Sehingga kali ini pengunjung bisa berfoto dari jarak sangat dekat. Meski begitu, sesekali Kholidi menegur pengunjung yang menyentuh bunga atau berfoto terlalu dekat. "Saya bukan pelit atau cerewet. Tapi karena tidak dipagar saya harus lebih rewel. Jangan sampai bunganya rusak dan tidak bisa dinikmati bersama," ujar Kholidin.
Sejak kemarin lusa, sudah sekitar 400 pengunjung yang datang ke lokasi mekarnya rafflesia. Pengunjung yang datang ada yang rombongan satu bus berasal dari Jambi. "Malah akan ada yang datang langsung dari Jepang. Namanya Mr. Hayashi. Sudah dua-tiga kali dia kemari melihat rafflesia mekar dan selalu minta dikabari tiap ada yang mekar. Biasanya dari Jepang dia ke Salatiga, lalu naik motor ke Bengkulu menempuh perjalanan empat hari," tutur Kholidin.
Pada area seluas 1 hektare di kawasan mekarnya bunga rafflesia itu, totalnya ada 11 titik tumbuhnya bunga. Kalau medan ditemukannya bunga rafflesia cukup jauh dari pinggir jalan dan sulit ditempuh, biasanya Kholidi tidak mau mengambil risiko. Ia tidak menginformasikan temuan bunga rafflesia kepada masyarakat umum. Tapi kalau jalurnya aman, ia pun membuka jalan untuk melintas. "Takutnya kalau jalur susah tetap dipaksakan memperbolehkan pengunjung melihat, malah celaka," kata Kholidin.
Secara rutin hampir setiap hari Kholidin menyisiri wilayah hutan, mengecek bunga rafflesia yang tumbuh. Baginya tidak sulit mengetahui di mana saja lokasi tumbuhnya bunga rafflesia. Ada batang khusus yang disebutnya batang sekedei.
"Kalau bahasa Bengkulu Selatan itu batang segedi. Kebetulan saya asli Bengkulu Selatan. Biasanya kami melihat batangnya dan menyusuri akarnya. Batang sekedei ini biasanya lentur dan mudah putuh," kata Kholidi, sembari menunjuk akar yang menghubungkan bunga rafflesia ke batang sekedei. Jaraknya hanya sekitar 2 meter antara bunga dan batang.
Mengupas Mitos
Selama menjaga bunga rafflesia, Kholidin mengatakan dirinya mendapati banyak perbedaan tentang rafflesia versi buku dengan rafflesia yang dijaganya. Perbedaan itu dianggapnya karena selama ini beberapa peneliti hanya fokus pada bunga, tidak menelusuri hingga inangnya.
Beberapa perbedaan yang didapati Kholidi bahwa ada yang mengatakan bahwa bunga adalah jamur atau spora yang biasa tumbuh di batang lapuk. Anggapan ini ditepisnya setelah membuktikan bahwa bunga rafflesia punya akar dan batang. "Saya baru tahu waktu SMP. Karena penasaran,waktu ada bunga yang tumbuh di pekarangan kebun orang tua, langsung saya korek. Baru ketahuan kalau ternyata rafflesia punya akar dan batang," tuturnya.
Lalu ada juga yang mengatakan bahwa diskus bunga rafflesia bisa menyedot tangan manusia dan memakannya. Begitu juga dengan hewan-hewan yang mendekat. Ternyata anggapan itu salah, karena justru binatang kecil seperti lalat dan serangga memakan sari makanan dari duri-duri diskus. "Tapi mungkin mitos ini ada baiknya karena membuat orang yang belum tahu tidak mau menyentuh bunga rafflesia ini. Bisa jadi sengaja disebarkan agar tidak ada yang merusak," tambahnya.
Lalu dalam sebuah buku yang pernah dibacanya juga menyebutkan bahwa rafflesia hanya tumbuh di musim hujan dan tidak bisa dibudidayakan. Menurutnya hal itu pun tidak benar. Tahun 1997 di Bengkulu pernah terjadi kemarau panjang, hingga sembilan bulan. Nyatanya pada periode itu bunga rafflesia tetap tumbuh.
"Satu lagi saya membuktikan bahwa isi di buku tidak sama dengan kondisi yang sebenarnya. Sekarang saya lagi mencoba melakukan penangkaran batang sekedei. Memang belum pernah berbunga. Tapi saya yakin pada jangka waktu tertentu di batang sekedei itu nantinya bisa tumbuh rafflesia," tambah Kholidi,
Hal lainnya, terkait sejarah yang menyebutkan bahwa Gubernur Thomas Stamford Raffles adalah penemu pertama bunga raksasa di Bengkulu. Kholidin sendiri yakin hal itu tidak benar. Ia berkeyakinan justru warga pribumi lah yang pertama kali menemukan. "Logikanya Thomas Stamford Raffles adalah pejabat tinggi, ibaratnya gubernur sekarang. "Apakah benar dia sendiri bersama rekannya Arnold itu yang menembus hutan dan menemukan bunga ini? Saya rasa tidak," ujar pria yang menamatkan pendidikannya di SMA PGRI Kepahiang.
Buat Penangkaran
Sejak pindah ke Tebat Monok bersama kedua orang tuanya Samsudin dan Sihawati, tahun 1979, Kholidin bersama keluarganya memang konsen melindungi puspa langka yang tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka. Beberapa tahun sebelumnya, menjaga bunga rafflesia dilakukan bekerjasama dengan sebuah kelompok pencinta alam Cinta Sampai Puncak (CSP). Tapi setelah itu anggota Tim Peduli Puspa langka ini makin berkurang.
"Tadinya anggota kami 21 orang, menyusut menjadi 13 orang. Lalu sekarang hanya 7 orang saja dan kami saudara kandung. Mengapa anggotanya berkurang, ya sepertinya faktor ekonomi yang menjadi persoalan. Aktivitas perlindungan ini kami lakuka swadaya. Belum ada bantuan subsidi dari pemerintah. Beruntungnya banyak diantara pengunjung yang memiliki kepedulian membantu sukarela. Meskipun jumlahnya terbatas," tutur Kholidin, yang merupakan anak ke-2.
Sangat disayangkan Kholidin, hingga sekarang belum ada yang menuntun mereka ke arah pelestarian dan penangkaran, terutama dari pemerintah. Dia yang pernah mencoba membuat penangkaran bunga kibut dan rafflesia, terkendala dana. Akibatnya penangkaran yang dirintis sekitar tahun 2009 kini mulai tak terurus. "Kami sudah mencoba untuk berbuat, tapi kami juga punya keterbatasan. Untuk sementara, penangkaran bunga kibut itu tidak terurus," tambahnya.(**)
http://www.facebook.com/notes/kendy-komi/khawatir-dirusak-rafflesia-dijaga-12-jam/501146647244?ref=notif¬if_t=note_reply
Selasa, 15 Februari 2011
TIPS MENENTUKAN JENIS SPECIES RAFFLESIA
Buat teman-teman semua yang mau melihat mekarnya Rafflesia di hutan Bengkulu, berikut tips untuk menentukan jenis species Rafflesia yang mekar, ini prinsip yang utamanya saja, sebagai berikut :
1. Mohon potret dan hitung jumlah Prosesus (bagian bunga yang berbentuk duri di tengah-tengah). Seperti gambar di atas, atau lihat photo ini :
2. Bawa cermin kecil (bisa cermin buat teman-teman wanita yang sering berdandan, cermin peruncing pinsil, prinsipnya cermin kecil saja). Masukkan cermin tersebut ke tengah tengah bunga Raflesia, hati hati agar cermin tak menyentuh bunga, dan lihat bentuk ramentanya. dan gambar di kertas bentuk pola ramenta tersebut. secara kasat mata ramenta itu berbentuk bulu bulu, di photo Pak Mario dia menyebut ramenta Rafflesia Arnoldii yang sudah proses membusuk seperti bulu-bulu buah rambutan, tapi bentuknya jadi tidak khas lagi karena Pak Mario melihat bunganya dalam keadaan tidak segar lagi.
3. Bandingkan gambar ramenta tersebut ke Monoghraph Ramenta yang dibuat oleh Meijer. Diagram monograph ramenta bisa di lihat dibawah ini :
4. Setelah melihat ramentanya teman-teman bisa berkesimpulan bahwa yang di lihat itu Rafflesia Arnoldii atau bukan. semoga bermanfaat :)
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=151182461606592&set=at.148580111866827.29468.146690182055820.1416979848&ref=nf
Mohon di Klik
Entri Populer
-
Assalamu’alaikum wr.wb, Yang terhormat bapak camat kampung melayu kota bengkulu beserta ibu Yang terhormat bapak Lurah Teluk sepang beserta ...
-
INDAHNYA PERSAHABATAN Tiada mutiara sebening cinta.. Tiada sutra sehalus kasih sayang.. Tiada embun sesuci ketulusan hati.. Dan tiada hubung...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Keadaan Penganggur dan Setengah Pengangguran. Pengangguran terjadi disebabkan antara lain, yaitu karena jumlah lapangan...
-
TERIMA KASIH UNTUK KAKAK YANG TELAH MENJADI GURU KU Oleh : Mayang Santri TPQ As Sunah Kakak adalah guruku yang tampan Kakak juga guruku yang...
-
PUISI AKHIR TAHUN Senja di Ufuk Barat Telah Sampai Laksana Tirai yang Tersemai Bagai Cerita Sukses Telah Digapai Harapan & Do’a Janganla...





